Menjadi pengguna VESPA memiliki beberapa
keuntungan. Salah satunya adalah sapaan yang hangat dari pengguna VESPA
yang lain.
Pada tahun 1998-2006, saya menggunakan VESPA di daeraH makassar ituPun Masih kePunyaaN oraNg tua TerciNta. Mulai tahun 2009, kembali saya menggunakan VESPA di Kota Daeng ini seteLah Hampir 5thN meNgasiNgkan Diri, sapaan dengan klakson dari pengguna VESPA lain merupakan moment paling menyenangkan ketika mengendarai VESPA di jalanan. Ketika sedang asyik menyusuri kota DAeNg, tiba-tiba ada pengendara VESPA yang berpapasan dan membunyikan klakson tanda menyapa. Tak lupa, saya juga kembali menyapa dengan membunyikan klakson saya yang seadanya. Sapaan adalah salah satu upaya membangun relasi. Komunikasi bisa dimulai dengan sebuah sapaan.
Pada tahun 1998-2006, saya menggunakan VESPA di daeraH makassar ituPun Masih kePunyaaN oraNg tua TerciNta. Mulai tahun 2009, kembali saya menggunakan VESPA di Kota Daeng ini seteLah Hampir 5thN meNgasiNgkan Diri, sapaan dengan klakson dari pengguna VESPA lain merupakan moment paling menyenangkan ketika mengendarai VESPA di jalanan. Ketika sedang asyik menyusuri kota DAeNg, tiba-tiba ada pengendara VESPA yang berpapasan dan membunyikan klakson tanda menyapa. Tak lupa, saya juga kembali menyapa dengan membunyikan klakson saya yang seadanya. Sapaan adalah salah satu upaya membangun relasi. Komunikasi bisa dimulai dengan sebuah sapaan.
Entah sejak kapan, kebiasaan menyapa dengan
membunyikan klakson aTopuN teriakan MasbrooooooooooooW antar pengendara VESPA
ini tumbuh laksana jamur. Akhir tahun 1990an, saat Bapak saya juga masih
menggunakan VESPA, sapaan saling mengklakson antar pengguna VESPA belum banyak
(seingat saya). Sekarang, tanpa diminta, setiap pengguna VESPA otomatis akan
menyapa pengguna yang lain. Memang kebanyakan pelaku adalah anak muda atau
mereka yang masuk dalam komunitas pengguna VESPA, namun lama-kelamaan, semua
pengguna VESPA juga melakukannya.
Saya kepingin tahu. Sapaan dengan klakson AtauPun
teriakan MasBrooow itu memberi kesan bahwa kita sama, kita adalah sesama
pengguna VESPA. Konsekuensi logis dan sapaan sebagai sesama itu adalah bahwa
muncul solidaritas. Solidaritas sebagai sesama pengguna VESPA. Menumbuhkan
kesadaran sebagai sesama adalah yang pertama, solidaritas akan mengikuti
kemudian. Bukankah hal ini sangat mengesankan ? Bisakah dikenakan untuk
komunitas di luar pengguna VESPA ?
Pengalaman seorang teman sesama pengguna VESPA
menegaskan solidaritas itu. Ketika VESPA-nya mogok di jalan, ada pengguna VESPA
lain yang dengan murah hati mendekati dan menolong. Tidak hanya membetulkan,
bahkan dia pernah dipinjami ban serep VESPA.dan meNdoroNg ke BenGkeL terdekaT
apaBiLa VESPA mOgok susAh uNtuk diPerBaiki//.... Masih menurut cerita teman
saya itu, ada beberapa pengguna VESPA yang sengaja putar-putar dengan tujuan
menolong pengguna VESPA lain yang mengalami masalah VESPA di jalan. Kembali
lagi, saya tertegun dengan ceritera ini. Darimana semua itu berasal ?
Saya mulai menduga-duga, darimana asalnya solidaritas
itu ? Apakah solidaritas itu muncul karena kesamaan nasib ? Nasib yang
bagaimana ? Situasi jadi korban ? jadi ingat bagaimana dulu orang-orang
nusantara merasa senasib dijajah lalu bersolider berperang.
Pertanyaannya, Mengapa para pengguna motor bebek
tidak punya solidaritas yang sama ? Apakah karena vespa termasuk motor lawas ?
Mengapa pengguna motor lawas tidak melakukan hal yang sama ? Yang jelas, bukan
karena lawasnya. Lalu darimana SOLIDARITAS ITU BISA MUNCUL...????
Saya jadi ingin membandingkan dengan para pecinta
MOGE. Salah satu hal yang membuat saya jengkel ketika mengendarai motor atau
mobil di jalan adalah ketika melintas gerombolan pengendara MOGE. Kejengkelan
itu muncul karena mereka biasanya meNganGkat Gas yAng sediKit tiNggi, deNgan
suara Yang MenggeLegar apa Nd ada kLaksoNnyaaaaaaaaa...???? dan berjalan
kencang, memotong jalan dan tidak menghiraukan pengendara yang lain. Kesan itu
bertolak belakang dengan kesan pengguna VESPA yang santai dan menikmati jalan
serta identik dengan solidaritas. Sekali lagi, darimana datangnya
solidaritasnya ?
Bila memang masih terlalu sulit mencari, baik bila
dibiarkan saja. Yang penting adalah bahwa dengan mengendarai VESPA orang bisa
bersolider dengan pengendara yang lain. Ada kebanggaan untuk bertindak solider.
Identitas sebagai orang yang solider tiba-tiba muncul begitu seseorang
mengendarai VESPA.
Kira-kira logika ngawurnya begini : Sesama pengendara Vespa adalah solider. Saya adalah pengendara Vespa.
Karena saya pengendara Vespa, saya solider. Sederhana, mungkin tanpa alasan
luhur sok moralitas apapun, bahkan bisa karena fashion saja, namun efeknya
berlipat ganda. Yang penting kita bisa lihat hasilnya : solidaritas. Bagaimana
dengan komunitas lain ?
Tak heran, di kampung-kampung, gerombolan anak yang
berjumpa dengan pengendara Vespa akan segera berseru “Mas broooooooooow”…..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar