Powered By Blogger

Senin, 11 Maret 2013

Bohay Red Scooter: Konflik 1965 tonggak lahirnya Vespa Super

Bohay Red Scooter: Konflik 1965 tonggak lahirnya Vespa Super: Pada Januari 1965, Australia setuju untuk mengirimkan pasukan ke Kalimantan setelah menerima banyak permintaan dari Malaysia. Pasukan Austr...

Rabu, 06 Maret 2013

MEWASPADAI INVESTASI BODONG

MEWASPADAI INVESTASI BODONG
Kolom Slamet Ristanto di Harian FAJAR Makassar, 05 Maret 2013

Dan terjadi lagi...
Kisah lama yang terulang kembali...

Awal lirik lagu Separuh Aku yang dinyanyikan oleh grup band NOAH itu agaknya sangat cocok untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita yang mudah sekali menjadi korban penipuan yang berkedok investasi alias investasi bodong. Terakhir, kasus investasi emas yang membawa kabur dana masyarakat yang konon hingga mencapai triliunan rupiah.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Pertama, yang jelas orang Indonesia itu kaya. Kalau tidak, mana mungkin bisa ramai-ramai menjadi korban penipuan sebesar angka di atas?

Kedua, pengetahuan masyarakat tentang investasi masih sangat minim sehingga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk menipunya.

Ketiga, nafsu kita untuk segera kaya raya itu luar biasa besar meski sebenarnya kita sudah kaya sehingga tadinya kita berharap selalu mendapat untung justru buntung.

Keempat, kita mudah dirayu dengan muatan agama. Kasus koperasi yang menasional tahun lalu akibat semua tergiur karena didalihkan sekalian untuk membantu umat yang miskin. Pun kasus investasi emas yang ramai kini juga karena label agama.

Para pembaca yang terhormat. Beberapa tahun terakhir ini kita selalu dicekoki oleh euforia berinvestasi. Investasi seolah cara sakti menuju kaya raya tanpa perlu kita bekerja.

Memang, itu betul jika tak bermasalah. Oleh karenanya melalui kesempatan ini penulis hanya ingin sharing agar maksud berinvestasi tidak justru membuat susah pada akhirnya.

Pertama, kenali betul perusahaan yang bersangkutan. Hindari perusahaan perseorangan atau badan hukum yang tidak jelas laporan keuangannya. Perusahaan asing juga tidak menjamin bonafiditas. Mereka malah lebih mudah kabur pulang ke negaranya.

Kedua, hindari ikut investasi jika kita tidak paham betul tentang bidang itu. Lebih baik berinvestasi di deposito bank, atau berinvestasi membeli tanah/properti yang kita kuasai betul wilayah dan dokumen legalitasnya , insya Allah lebih aman dan menguntungkan.

Ketiga, kita perlu berhitung, menghitung dan memerhitungkan atas sesuatu! Meski kita dianjurkan untuk selalu positive thinking namun kita tetap harus kritis. Masak sih usaha seperti itu bisa memberikan keuntungan bagi hasil sekian persen setiap bulannya?

Beberapa tahun lalu banyak masyarakat/mitra usaha tertipu oleh investasi bertanam cabe/beternak bebek di sebuah kabupaten di Jawa Barat hingga setengah triliun rupiah (setara 5 ton emas waktu itu). Luas lahannya masuk akal tidak? Kandangnya sebesar apa? Mengapa bisa lancar memberi bagi hasil? Pasti money game, untuk membayar mitra-mitra lama dari setoran mitra-mitra baru. Gali lobang tutup lobang sampai tak mampu menutup.

Keempat, jangan mudah dirayu mulut manis. Maling bisa berteriak maling. Para penipu tak segan mengingatkan kita agar berhati-hati menerima tawaran investasi dari pihak lain. Mereka bahkan rela menjual agama agar berhasil menipu! Mereka berlagak orang suci.

So, kata Bang Napi, WASPADALAH! (Twitter: Penyair Finansial@SlametRistanto, Facebook: Slamet Ristanto (Penyair Finansial).
http://www.fajar.co.id/

Senin, 25 Februari 2013

Aku HanYa ingin Kau BeruBah

Aku hanya ingin berkata. 

Aku sayang padamu, saking sayangnya aku pada mu hingga tidak ingin suatu kesalahan kau perbuat. Aku hanya ingin menjagamu. Seperti aku menjaga diri ku sendiri. Aku rela kau benci. Aku rela kau tak anggap aku sebagai pendamping hiduPmu, Aku rela kau usir hadirku dalam hidupmu, aku rela kau palingkan wajahmu dari ku, aku rela tak ada sedikit kata maaf untukku. Hanya satu yang aku mau belajarlah untuk menghargai hidup ini, belajarlah untuk bisa berkarya meskipun  hanya menjadi anak yang penurut dari orang tuamu dan istri dariku. Belajarlah untuk menghargai waktu,karena waktu itu cepat berlalu. Belajarlah menjadi orang yg diSiplin kedisiplinan bukanlah dari orang dan disiplin adalah harga yang mahal dalam hidup kita. Karena orang akan cerdas karena disiplin, ia akan dihargai karena disiplin, ia akan dicintai karena disiplin. Aku hanya tidak ingin melihatmu bertengkar dengan orang tua kita,karena aku hanya ingin melihat kau bisa menjaga perasan mereka dan perasaanku saat kalian bertengkar, aku hanya ingin mendengar kalian tidak saling membantah, aku hanya ingin melihat kau tidak memarahi adikMu, dan aku hanya ingin melihatmu cepat menyelesaikan kuliahmu, aku hanya ingin melihatmu cepat bekerja untuk bisa membantuku mewujudkan smua impian, aku hanya ingin melihatmu bangun lebih awal dariku, aku hanya ingin melihatmu membuatkan makan siang untukku, dan aku hanya ingin melihatmu menyiapkam segala sesuatu dengan cepat, aku ingin melihatmu ada dirumah ketika aku berusaha untuk pulang cepat setelah bekerja.

 

 

Aku tahu kau bukan musuhku, dan kau pun bukanlah orang lain dalam hidupku melainkan pendamping hidupku.... Karena itu AKU HaNya iNGin KaU berUbaH.

 

Aku berkata itu bukan berarti aku orang yang disiplin, bukan berarti aku orang yang pandai menghargai waktu tetapi, tidak juga pintar untuk menjaga perasaan. aku orang bodoh yang ingin berusaha memanfaatkan waktu sebaiknya sebelum ajal menjemputku, karena aku sedang mempersiapkan mencari jawaban tentang waktuku yang dihabiskan untuk apa. Itulah yang sedang aku persiapkan, dari yang aku persiapkan.. Karena sebenarnya Allah mencari hambaNya yang selalu menangis karena waktunya lebih sedikit dari pada pekerjaannya yang itu semua tentunya dalam kontek kebaikan dunia akhirat. INGATLAH, aku sayang pada kalian melebihi diriku sendiri dan aku rela dibenci. Karena aku hanya ingin kalian juga disayang ALLAH.

 

                  Makassar,11-2-13

              ȚHË ĻÏËVeËËŖŹ MËMÖŖŸ

Rabu, 30 Januari 2013

JuLukaN atO naMa VesPa...

MalaM yaNg cerAh
Secerah Hati Ini Yg MengiKAt akaN vesPa TersayaNg
yAng Kuberi Nama "The TooTLeZ"
Apa Kalian sMUa PengenDara Vespa
Memberi Nama Ato Julukan Buat Vespa kaLian...???

Rabu, 23 Januari 2013

D'baRiS


 MoMent For RemeMber



KuberI naMa "The TooTLez"


VESPA, Solidaritas, dan KicK



Menjadi pengguna VESPA memiliki beberapa keuntungan.  Salah satunya adalah sapaan yang hangat dari pengguna VESPA yang lain.

Pada tahun 1998-2006, saya menggunakan VESPA di daeraH makassar ituPun Masih kePunyaaN oraNg tua TerciNta. Mulai tahun 2009, kembali saya menggunakan VESPA di Kota Daeng ini seteLah Hampir 5thN meNgasiNgkan Diri, sapaan dengan klakson dari pengguna VESPA lain merupakan moment paling menyenangkan ketika mengendarai VESPA di jalanan.  Ketika sedang asyik menyusuri kota DAeNg, tiba-tiba ada pengendara VESPA yang berpapasan dan membunyikan klakson tanda menyapa. Tak lupa, saya juga kembali menyapa dengan membunyikan klakson saya yang seadanya. Sapaan adalah salah satu upaya membangun relasi. Komunikasi bisa dimulai dengan sebuah sapaan.

Entah sejak kapan, kebiasaan menyapa dengan membunyikan klakson aTopuN teriakan MasbrooooooooooooW antar pengendara VESPA ini tumbuh laksana jamur. Akhir tahun 1990an, saat Bapak saya juga masih menggunakan VESPA, sapaan saling mengklakson antar pengguna VESPA belum banyak (seingat saya). Sekarang, tanpa diminta, setiap pengguna VESPA otomatis akan menyapa pengguna yang lain. Memang kebanyakan pelaku adalah anak muda atau mereka yang masuk dalam komunitas pengguna VESPA, namun lama-kelamaan, semua pengguna VESPA juga melakukannya.

Saya kepingin tahu. Sapaan dengan klakson AtauPun teriakan MasBrooow itu memberi kesan bahwa kita sama, kita adalah sesama pengguna VESPA. Konsekuensi logis dan sapaan sebagai sesama itu adalah bahwa muncul solidaritas. Solidaritas sebagai sesama pengguna VESPA. Menumbuhkan kesadaran sebagai sesama adalah yang pertama, solidaritas akan mengikuti kemudian. Bukankah hal ini sangat mengesankan ? Bisakah dikenakan untuk komunitas di luar pengguna VESPA ?

Pengalaman seorang teman sesama pengguna VESPA menegaskan solidaritas itu. Ketika VESPA-nya mogok di jalan, ada pengguna VESPA lain yang dengan murah hati mendekati dan menolong. Tidak hanya membetulkan, bahkan dia pernah dipinjami ban serep VESPA.dan meNdoroNg ke BenGkeL terdekaT apaBiLa VESPA mOgok susAh uNtuk diPerBaiki//.... Masih menurut cerita teman saya itu, ada beberapa pengguna VESPA yang sengaja putar-putar dengan tujuan menolong pengguna VESPA lain yang mengalami masalah VESPA di jalan. Kembali lagi, saya tertegun dengan ceritera ini. Darimana semua itu berasal ?

Saya mulai menduga-duga, darimana asalnya solidaritas itu ? Apakah solidaritas itu muncul karena kesamaan nasib ? Nasib yang bagaimana ? Situasi jadi korban ? jadi ingat bagaimana dulu orang-orang nusantara merasa senasib dijajah lalu bersolider berperang.

Pertanyaannya, Mengapa para pengguna motor bebek tidak punya solidaritas yang sama ? Apakah karena vespa termasuk motor lawas ? Mengapa pengguna motor lawas tidak melakukan hal yang sama ? Yang jelas, bukan karena lawasnya. Lalu darimana SOLIDARITAS ITU BISA MUNCUL...????

Saya jadi ingin membandingkan dengan para pecinta MOGE. Salah satu hal yang membuat saya jengkel ketika mengendarai motor atau mobil di jalan adalah ketika melintas gerombolan pengendara MOGE. Kejengkelan itu muncul karena mereka biasanya meNganGkat Gas yAng sediKit tiNggi, deNgan suara Yang MenggeLegar apa Nd ada kLaksoNnyaaaaaaaaa...???? dan berjalan kencang, memotong jalan dan tidak menghiraukan pengendara yang lain. Kesan itu bertolak belakang dengan kesan pengguna VESPA yang santai dan menikmati jalan serta identik dengan solidaritas. Sekali lagi, darimana datangnya solidaritasnya ?

Bila memang masih terlalu sulit mencari, baik bila dibiarkan saja. Yang penting adalah bahwa dengan mengendarai VESPA orang bisa bersolider dengan pengendara yang lain. Ada kebanggaan untuk bertindak solider. Identitas sebagai orang yang solider tiba-tiba muncul begitu seseorang mengendarai VESPA.

Kira-kira logika ngawurnya begini : Sesama pengendara Vespa adalah solider. Saya adalah pengendara Vespa. Karena saya pengendara Vespa, saya solider. Sederhana, mungkin tanpa alasan luhur sok moralitas apapun, bahkan bisa karena fashion saja, namun efeknya berlipat ganda. Yang penting kita bisa lihat hasilnya : solidaritas. Bagaimana dengan komunitas lain ?

Tak heran, di kampung-kampung, gerombolan anak yang berjumpa dengan pengendara Vespa akan segera berseru “Mas broooooooooow”…..